(Sad Story) Forget The Past, Remember The Future

0
132
views

Namaku adalah maharani, aku lahir dan menetap di Gresik. Tepatnya adalah di salah satu pemukiman padat di kota kecil ini. Ibuku seorang pedagang kaki lima di pusat kota Gresik, dan Ayahku seorang guru di salah satu madrasah Ibtidaiyah Gresik. Penghasilan mereka pas-pasan dan tidak menentu. Tetapi, mereka selalu mengajariku untuk selalu bersyukur. Aku memiliki satu kakak perempuan dan tiga adik laki-laki. Dari lima bersaudara aku adalah anak kedua. Keluargaku termasuk keluarga orang tidak mampu tetapi otak kami bukan otak tidak mampu. Krisis Ekonomi tidak akan bisa mengalahkan, meruntuhkan , dan menghancurkan nilai dan cita-cita kami untuk sukses. Ayah mendidik kami sangat keras dalam hal belajar. Kami tahu ayah kami tidak pernah menginginkan kami bernasip sama seperti ayah dan ibu. Ayah hanya ingin hidup kami sejahtera dunia dan akherat. Kami tidak pernah mengeluh kalau kami dimarahi hanya gara-gara nilai kami menurun.

Sekarang aku menginjak kelas dua SMA di sekolah SMA Negeri 1 Gresik. Atau yang biasa dikenal SEMANSAGRES. Sekolah tersebut adalah sekolah impian bagi para pelajar di Gresik. Aku sangat beruntung bisa masuk di sekolah ini, aku memilih jurusan bahasa karena rata-rata yang sekolah di sini adalah orang-orang yang sangat mampu mengikuti perkembangan zaman. Rasa iri sering menyelimuti hati dan perasaanku. Semakin aku melihat keatas, semakin sakit hati ini. Bullyan sering menimpaku ketika anak-anak orang kaya itu memiliki barang-barang mewah baru. Saat-saat seperti iilah air mataku menetes. Tapi air mata ini adalah air mata dendam, melainkan air mata ambisi bahwa suatu saat aku bisa seperti orang tua mereka yang sukses, bukan seperti mereka yang meminta dan terus meminta kepada orang tua mereka. Cita-cita terbesarku mengajak orang tuaku pergi ke tanah suci.

Kelas bahasa yang aku masuki termasuk kelas unggulan. Peraturan, pelajaran dan kegiatan di kelasku super ketat. Full day school adalah julukan yang tepat untuk kelasku, senang ya memang senang, sedih juga iya. Karena tidak bisa membantu orang tuaku bekerja. Tetapi mereka tidak pernah menyuruhku membantu mereka. Karena yang paling penting bagi mereka adalah belajar dan belajar.

Kakaku bernama Zahra Maharani. Sekarang dia mendapatkan beasiswa di UI. Sekarang dia menginjak semester empat.  Dialah yang selalu memotivasiku untuk lebih giat belajar. Tanpa memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan. Harus aku akui, perjuangan kak Zahra untuk mendapatkan beasiswa itu ia rela bekerja ketika pulang sekolah demi mendapatkan uang untuk mengikuti program beasiswa.  Meskipun kenekatan kak Zahra ini tidak pernah diketahui oleh ayah dan ibu. Karena kak Zahra tidak ingin merepotkan mereka. Kak Zahra juga menyadari posisinya yang memiliki empat adik yang masih duduk dibangku sekolah.

Ketiga adikku laki-laki bernama David, yang duduk di kelas tiga SMPN 1 Gresik. Alfian yang duduk di kelas 1 SMPN 1 Gresik. Dan Hasby yang duduk dikelas 1 Madrasah Ibtidaiyah.

Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru setelah libur yang cukup panjang. Seperti biasa para siswa dan siswi kelas X mengikuti program pelatihan pengenalan program sekolah. Iya. Tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Tahun ini tidak diadakan MOS. Sesuai dengan peraturan mentri pendidikan Indonesia. Sedangkan yang untuk kelas XI akan diadakan seminar yang akan dinarasumberi oleh mentri pendidikan dari USA. Seminar tersebut diadakan di Aula SEMANSAGRES dengan ruangan yang full AC. Dilengkapi dengan 1001 damar kuning di langit-langitnya. Damar kuning merupakan kotak yang dilapisi gambar-gambar dengan bola lampu kecil berwarna kuning ditengahnya. Suasana di Aula SEMANSAGRES sangatlah berbeda dengan Aula-aula  ditempat lain. Aula disini mirip dengan suasana meeting. Meja dan kursi tertata rapi dan meja untuk pembicara lebih ditinggikan agar semuanya dapat memahami apa yang sedang disampaikan oleh pembicara. Tidak ada kata mengantuk ketika berada diruangan ini. Karena dinding dan kursinya diberikan warna yang kontras dengan warna biru agar pikiran mereka selalu fresh.  Disepanjang dindingya terdapat lukisan yang menggambarkan kota Gresik. Gresik memang kota kecil, tetapi menyimpan 1001 cerita.1001 kenangan dan 1001 cinta. Suasana Aula yang seperti ini didesain dengan para peserta dapat nyaman mengikuti setiap kegiatannya.

Untuk menyambut kedatangan mentri Pendidikan dari USA. Para peserta dianjurkan ada yang mewakili kedepan untuk pidato. Sebagai primadona kelas unggulan Adista ditunjuk untuk maju kedepan mewakili selutih kelas XI. Selain pintar Adista memiliki paras yang cantik dengan hidung mancung. Mata yang bulat seperti kucing, buli mata yang panjang dengan jilbab yang selalu setia menutup auratnya. Ia memang idaman para cowok. Tetapi Adista bukanlah cewek yag suka bermain cinta-cintaan. Ia hanya tertarik dengan masa depan.

Pidato yang disampaikan Adista bertema tentang pentingnya semangat belajaryang tinggi. Tepuk tangan yang meriahpun meramaikan ruangan yang diisi 2000 orang. Semuanya terkagum-kagum mendengarkan pidato Adista, “What Is Your Name?” tanya kepala mendik setelah tepuk tangan yang meriah mulai meredam.

“My Name Is Adista Maharani”. Jawab Adista dengan suara yang lantang dan percaya diri. “ What Is Your Motto?” Kepala Mendik USA menanyakan tentang moto anak yang menjadi primadona  ini dengan senyum bangga yang tersungging dibibirnya “ My Motto Is ,  Forget The Past Remember The Future” lagi-lagi adistira membuat kagum narasumber dari USA ini. “Why You Want Forget The Past? Your Past Is Your Lesson For You”. Kepada mentri pendidikan USA menanyakan tentang alasan motto sang primadona. “Yes of Course Sir, My Past Is My Lesson, But I No Want My Future Is My Past. I Want My Future change the best”. Tepuk tangan kembali meramaikan ruangan ini karena jawaban si primadona kembali berasil membuat semuanya kagum. “ Ok, I Like Your Answer. May I Know Your Dream?” narasumber menanyakan cita-cita Adista, dengan senyum bangga yang setia tersungging dibibirnya adista menjawab, “ I Want To Around In world, and my big dream is visit makkah with my family”. Cita-cita anak sholeh ini memang biasa bagi teman-temanya yang kaya, tetapi buat Adista butuh perjuangan                                               for reach her big dreams. “ I will to folfilone of your dreams. I will bring you to Ussa for school. We will pay your school until you can reach your big dream. And in USA we will pay all you need for life. Para seminar yang menyaksikan sangat terkejut mendengar pernyataan yang disampaikan oleh kepala mendik USA. Adista hanya bisa menangis sambil suhud sukur didepan para narasumber dan guru beserta seluruh siswa-siswi kelas XI.

Adista dipersilahkan kembali duduk ditempatnya.  Dan setelah acara selesai semua teman-temanya menyalami Adista diembel-embeli kalimat “congrulation” . “Ta, congrulation ya,,,, proud of you deh… nanti kalau udah di USA don’t forget me lho ya…keep to be Adista now. Never change ya Ta…” Revi adalah sahabat terbaik Adista. Ia pun ikut menyalami Adista sambil memeluknya sangat erat.sir msts kehsrusn ulsi menetes deras dari mata Revin. Revin memang sudah lama mengenal Adista. Jadi dia tau semua tentang Adista. Termasuk perjuangan Adista dalam meraih mimpi-mimpinya. Sebagai sahabat, Revin sangat bangga melihat sahabatnya yang sedang berbahagia. Dari semua ini. Revin dapat menyimpulkan bahwa kunci sukses seseorang adalah percaya diri.

 

Keesokan harinya ayah, ibu, kak Zahra dan adik-adiknya mengantarkan Adistira ke Bandara Juanda Surabaya, dengan menaiki kendaraan  mobil yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah. Untuk menjemput mereka dirumah dan mengantarkan mereka sampai di Bandara. Adistira beserta keluarganya disambut oleh kepala sekolah, mentri pendidikan USA beserta Rombonganya, Bupati Gresik Gubernur Jatim dan tak lupa Revin yang selalu ada ketika Adista sedang duka atau cita.

Buk, yah, Adista janji akan buat kalian bangga. Do’akan Adista ya… Adista akan selalu jaga amanat dari kalian. Tak terasa air mata yang bening mulai memenuhi pelupuk mata Adista. Baru pertama kali ini Adista berpisah dengan keluarganya dan dia akan hidup tanpa keluarga disampingnya yang selama ini selalu menjaganya. Setelah 16 tahun yang selalu bersama ayahnya jika Adista mau pergi, setiap pagi yang selalu ada masakan-masakan lezat buatan ibunya. Adik-adiknya yang selalu merepotinya dengan PR yang banyak setiap malam, kak Zahra yang selalu memotivasinya ketika sedang putus asa. Dan tak lupa Revin yang selalu menjadi pendengar setia keluh kesahnya. Dalam hitungan jam dia tidak akan menemukan suasana seperti itu. Adista memeluk mereka satu persatu sebagai ucapan perpisahan. Setelah selesai berpelukan, dengan masih beat hati, Adista melangkah menuju tempat check out bersama para rombongan dari USA.

Dua tahun kemudian, “Ta…. lo jadi pulang ke Indonesia kapan…?”tanya Dava dari seberang telepon. “ Gue udah beli tiket pesawat Dev, minggu depan gue balik”  Deva kangen mendengar perkataan Adiista. “Yaaaah,,,, cepet amat sih. Then if you go home I am alone Ta…. alone!” nada bicara Dava mendadak tinggi bercampur rasa kecewa yang mendalam “You not alone Dev. Temanmu masih banyak, enggak gue doang kan?”. Adista merasa tidak enak hati karena akan meninggalkan Dava disini sendirian. Sejak tinggal di USA Adista memang sering bersama Dava.

Ternyata Dava adalah orang Indinesia yang mengikuti program basiswa setelah lulus SMP, dan diterima sekolah yang sama dengan Adista. Mereka kenal sejak pertama kali memasuki kelas. Wajah Adista memang asia banget seprti wajah Dava. Jadi mereka berdua tidak asing lagi. Karena meraka mempunyai ras yang sama. Deva memulai pembicaraan duluan dan setelah ngobrol lama mereka merasa ada kecocokan satu sama lain. Hari demi hari mereka semakin dekat. Dimana ada Adista pasti juga ada Deva. Begitu juga sebaliknya. Deva selalu membantu Adista ketika ada kesulitan. Selama dua tahun. Adista never go alone. Because Deva always faithful beside her mengikuti Adista pergi. All people mengira mereke berdua steady, padahal selama dua tahun ini merek baik-baik saja. Tak ada kata lebih dari sahabat. Sebenarnya Adista juga berat hati meninggalkan Deva. Sementara Deva sendiri masih mengurusi proyek. Yang diberikan papanya setelah dia lulus sekolah. Sehingga Deva tidak bisa ikut pulang ke negara kelahiranya bersama Adista. Sungguh sangat disayangkan oleh Adista karena Deva yang selalu menghiburnya ketika ia rindu keluarganya. Deva yang selalu membantu ketika Adista sedang kesusahan. Deva yang selalu menemani Adista ketika sendirian. Deva yang selalu ada ketika Adista dalam bahaya.  Deva is everythink for Adista. Now, she will leaving Dava. Adista sudah terlanjur nyaman diamping Deva. Tapi ia tidak tahu harus dengan apa untuk membalas semuakebaikan Deva.

Ta,,,, sebelum lo kembali ke Indonesia ada sesuatu yang harus gue sampaikan ke elo. But, I must speak in frot of you. No in mobile.I want to meet you to night. Sendu suara Deva membuat hati Adista berdebar-debar. Ada suatu rasa keseriusan yang mendalam dari kata-kata Deva. “yes I can meet you to night, but where is?”. Adista menanyakan dimana ia bertemu dengan Deva. Dibawah Eifel tower saja. Jarang- jarang kan kita pergi kesana. Lagian bosen ah ke kaffe mulu.pengen suasana yang beda saja. Ada rasa kesedihan dibalik kata-kata yang diucapkan Deva secara datar. Oh iya bener juga tuh. Sekali-kali cuti ngaffe…. hhhhh,,,,,” Adista memaksakan suaranya untuk tertawa karena suasananya mendadak kaku walaupun hanya via telepon. “yah. Maybe this is the last moment I laugh for you. Deva menutup telepon tanpa menunggu jawaban Adista.

Dev, lo dimana?,  Adista menelpon Deva karena ia tidak melihat sosok laki-laki yang sudah dia kenal selama dua tahun. “gue udah di bangku taman dekat eifel tower, tapi kok gak ada kamu sih?”. Cerocos Adista membanjiri  Deva pertanyaan karena Adista merasa takut berdiri sendiri tanpa sosok Deva disampingnya. Sementara Deva merasa geli melihat muka panik Adista dari kejauhan. “iya-iya, tenang dulu dong! Ikutin petunjuk aku ya,,,,,”. “ta,,,tapi…” Adista heran dengan perkataan Deva. tetapi Deva tidak memberi kesempatan Adista untu berbicara. “Shuuuttt! Nggak usah tapi-tapian. Selama elo masih denger suara gue elo aman Ta. Sekarang pindah arah lo ke belakang. Jalan terus aja. Nggak usah tengak-tengok, belok kanan dan pindah arah lo ke barat. Duduklah yang manis di kursi putih yang ada didepan lo”. Deva berhenti berbicara dan mematikan teleponya. Adista tidak menyadari kalau telepon sudah dimatikan. Adista masih terkejut malihat banyak bunga mawar berwarna pink yang membentuk huruf “LOVE YOU ADISTA”. didepan kursi putih yang ia duduki sekarang love you Adista Maharani, bisik Deva ditelinga Adista sembari duduk disamping Adista.

Sepontan adista kaget dan langsung menurunkan tanganya yang dari tadi menggenggam telepon. “lho, kamu kapan datangnya?”, ekspresi Adista membuat Deva tersenyum lebar.

“kamu tuh kalo bingung lucu ya,,,?” kal terkejut itu biasa aja, gak usah lebay deh”. Adista malu sendiri karena Deva melihat ekspresi bingingnya dicampur terkejutnyya. “to the poin ya,,, aku gak mau telat ngungkapin perasaanku yang sebenarnya ke kamu. Selama ini, sejak pertama kali melihat kamu, aku langsung jatuh cinta ke kamu. Aku menahan rasa ini sudah dua tahun. During this, maybe you dont know about my feel. I love you more then everythink. I dear you every day. I care with you because I scared losing you. Can you will be my mine?”.

Tatapan mata Deva yang tulus membuat Adista meluluh hatinya, sehingga air mata tak sengaja mendarat dipipi Adista yang chubhi. “Dev, ternyata selama ini aku tidak sendirian merasakan perasaan-perasaan ini. What you feel, I too feel that. But, I can’t be yourse”. Adista berhenti bersuara karena ia tidak bisa menahan tangisnya. “why?”, tanya Deva penasaran, tapi Adista keburu pergi berlari menjauhi Deva. Langkah kaki Adista sangat tepat, sehingga deva tidak bisa mengejarnya, karena kak Deva telah tersungkur jatuh ketanah. Dan tak berdaya. Air matapun mulai menetes dari matanya. Kekecewaan yang saat ini hanya dirasakan oleh deva.

Keesokan harinya, Adista pergi kebandara menaiki taksi tanpa Deva disampingnya. Adista berharap Deva menghubunginya dahulu. Tapi, itu tidak mungkin bagi Adista karena rasa kecewa yang sangat mendalam pasti dirasakan oleh Deva. Setelah check out, Adista langsung menduduki kursi penumpang sesuai nomer yang ia dapatkan. Sebelum take off, Adista memberi tahu keluarganya yang di Indonesia kalau ia akan pulang dan Adista meminta kepada mereka untuk tidak menjemput dibandara, karena sudah ada sopir yang akan menyusulnya. Mode pesawat ia nyalakan ketika pesawat lepas landas.

“Buk, ada kiriman dari kak Adista nih,,,”. Teriak david sambil berlari memasuki rumah menghampiri ibunya sambil membawa kotak kiriman dari pak pos yang tadi datang ke rumahnya, “Lho, kok dari Adista? Adista kan lagi perjalanan pulang, kok ada kiriman dari dia sih?”. Ibu Adista pun bingung sambil membolak-balik kotak kiriman itu. Tiba-tiba suara tangisan histeris kak Zahra mengagetkan seluruh isi rumah yang sedang menyiapkan kedatangan Adista Maharani. “Buk, Adista buk,,, pesawat yang ditumpanginya hilang kendali 15 menit yang lalu,,, dan,,, salah satu korbanya yang meninggal adalah Adista Maharani Bukk,,,”. Zahra menangis terisak-isak menjelaskan berita duka yang ia dapatkan dari internet. Seisi rumah ikut menangis dan suasana mendadak menjadi gaduh.betapa kagetnya Ayah dan ibunya mendengar kabar ini, padahal tiga jam yang lalu, Ayah dan ibunya masih bisa mendengar suaranya lewat telepon. Ibunya teringat kotak kiriman dari Adista dan ia langsung membukanya, ternyata isi kotak itu adalah enam tiket pesawat naik haji beserta paspornya, dan selembar kertas diatasnya.

“Yah, buk, kak Zahra, David, Alfian, dan hasby, makasih ya udah menjadi anggota keluarga yang baik untuk adista. Maaf, Adista tidak bisa berangkat ketanah suci bersama kalian. Adista sudah disini, disurga impian Adista. Salam untuk semuanya yang Ada di Gresik ya… kaka sama adek-adek, Adista titip ibu dan ayah, jaga mereka seperti mereka menjaga kita dan jangan lupa buat ayah dan ibu bangga. Adista love tou all”.

Deva pun sudah mendengar berita tentang jatuhnya pesawat yang ditumpangi Adista. “thing,,,thung”. Suara bel pintu apartemen membuyarkan kefokusanya pada berita yang ia lihat di TV. Ternyata ada surat didepan pintu beserta satu buket mawar putih disampingnya yang bertuliskan Adista Maharani. Deva membaca surat sambil duduk didepan TV yang menayangkan nama-nama korban yang meninggal saat jatuhnya pesawat.

“Deva your the best partner. Makasih ya,,,, buat dua tahunya. Maaf belum bisa balas semua kebaikan kamu. Maaf juga kemarin aku tiba-tiba lari. Dan, sekarang kamu sudah tau kan why I can’t be yours?. Percayalah cintaku ke kamu udah aku bawa kesurga. Makasih udah bantuin aku semua kesulitan yang aku dapatkan ketika sekolah sampai akirnya kita lulus bareng. Sekarang aku udah pergi dengan tenang. Jaga kesehatan ya,,, semoga cepet dapetin pengganti posisiku disampingmu. Always love you ferever”.

Tangis Deva pecah setelah selesai membaca tulisan Adista,. Tanpa basa-basi Deva langsung mengambil air wudu dan sholat ghaib di apartemenya. Sementara, dikediaman Adista sedang menunggu mobil jenazah yang membawa Adista.

Akhirnya, Adista maharani sudah menggapai cita-cita terbesarnya dan ia bisa pergi dengan tenang menuju surga. “salam forget the past, remember the future”. Ucap Adista dari surga yang sedang duduk manis mengenakan gaun dan jilbab yang suci dan bersih berwana putih dengan senyuman manis yang tulus tersungging di bibirnya. Terimakasih
==============================
Muhsinah Dwi Lestari, santri Sunan Drajat Asrama Ummi Hany

Berikan komentar