Risalah Ta’dzimil Murobby, menyambut usia 74 Abah KH. Abdul Ghofur (14 Fadilah)

0
358
views

Oleh: Masykur Aamin*

Abah Kyai Abdul Ghofur, beliau adalah sosok yg sangat alim. Santri generasi 99-an tentunya pernah satu majlis bersama beliau mengkaji kitab Ihya’ Ulumiddin, Sirojut Tholibin, At-Tajridus Shorih, Mauidlotiul Mu’minin, Thibbin Nabawy, Risalatul Qusyairiyah, dll. Beliau adalah satu-satunya santri yg mendapat warisan kitab Syamsul Maarif Kubro dari Mbah Bolah (Hasbullah) Rembang.

Tidak dipungkiri bahwa beliau adalah Ahli Tirakat, kisah masyhur menceritakan beliau tirakat puasa selama 2 tahun hanya dgn segenggam ubi utk sahur dan berbuka, juga sekitar 4 tahun puasa dgn makan kunir utk sahur dan berbuka.

Beliau adalah sosok yg memiliki maqom mukasyafah sehingga diperlihatkan kejadian-kejadian luar biasa di alam Ghaib. Pada tahun 70-an beliau mendirikan Perguruan Pencak GASPI, yg diantara tata jurusnya diajarkan sosok yg diistilahkan “genderuwo” oleh beliau (utk memudahkan nalar adanya sosok Ghaib).

Selama mondok di berbagai pesatren beliau sangat giat belajar, hingga pernah mengkaji dan mengkhatamkan “satu kol bak” (istilah saking banyaknya) dalam satu masa kajian. Setelah berbagai kajian ilmu pendidikan agama digali, beliau akhirnya mendalami ilmu kanuragan dan berbagai disiplin pengetahuan ghaib. Dengan ini kita memahami bahwa harus didahulukan pengetahuan ilmu syariat sebelum masuk disiplin-disiplin ilmu yg lain, usia emas harus dimanfaatkan utk belajar karena pengetahuan yg didapat pada masa ini tidak akan hilang sampai kapanpun.

Beliau selalu mengkampanyekan pentingnya thoriqot pendidikan, karena memang kehidupan ini berjalan diruang lingkup pendidikan, pendidikan bukan hanya ttg mengajarkan ilmu, tapi juga keharusan menyiapkan konsep, kurikulum dan tata kelolanya. Setiap generasi pasti silih berganti dan tentunya harus meninggalkan warisan, sedangkan warisan terbaik adalah ilmu.

Disuatu saat, kanjeng Sunan Drajat mendatangi beliau dgn berjubah kuning. Hal ini mengisyaratkan bahwa beliau harus terjun ke dunia politik dan bergandengan dgn parpol yg berkuasa saat itu, yakni Golkar. Saat itu banyak terjadi pertentangan dari berbagai pihak, namun komitmen beliau menegakkan “amar ma’ruf nahi munkar” dgn niyatan lillahi ta’la nyatanya banyak membuahkan hasil, akhirnya mereka pun mengakui dan menyepakati jalan politik yg beliau tempuh. Beliau sering berkata; politik itu utk menang, bukan utk kalah.

Dikisahkan, saat Abah Kyai sedang susah memikirkan keberadaan pondoknya, datanglah “sosok gila” yg tak henti-hentinya nyeletuk; nginguo bekicot-nginguo bekicot (rawatlah siput), beliaupun memahami bahwa mendirikan pondok itu harus dengan pelan-pelan, sedikit demi sedikif. Dan sekarang-pun terbukti keberadaan ponpes Sunan Drajat dgn puluhan hektar tanah aset dan berbagai cabang pondok yg tersebar di berbagai wilayah. Hal ini tentunya harus ditiru dan menjadi inspirasi siapapun yg ingin merinstis perjuangan mendirikan sarana pendidikan. Bekicot/siput juga mengandung nilai; bahwa dimanapun berada kita harus memikul rumah (tanggung jawab keluarga dan lingkungan sekitar).

Ada kisah lain, beliau juga pernah kedatangan “seorang aneh” dan membawa pesan “penggaweane watu, yo mangan watu” (pekerjaannya olah batu, ya makan-nya batu), ternyata mengandung pesan bahwa di masa depan beliau harus menjalankan bisnis besar pengolahan batu, dan saat ini adalah pembuktiannya, kawasan industri ponpes sunan drajat dan pergudangan di selatan makam sunan drajat adalah salah satu hasil “mangan watu”. Siapaun yg pernah sowan dan bercengkrama bersama beliau akan mendapati bahwa beliau sangat fasih bicara ttg aneka macam bisnis, beliau sering berkata; santri kui kudu pinter kerjo, kerjo opo ae, ngolah sembarange..

Para tamu yg datang silih berganti dgn berbagai kerperluan menunjukkan bahwa sebenarnya semuanya dirangkul. Perantara do’a mustajab beliau banyak yg sakit kemudian sembuh, yg punya masalah mendapat jalan keluar, yg punya hajat memperoleh sukses. Beliau berulang kali berpesan agar para pengurus pandai-pandai menjalin hubungan dgn instansi pemerintahan karena disuatu saat kita pasti butuh sesuatu terkait mereka, hal ini juga sebenarnya pengaplikasian perintah Allah SWT, bahwa agar kita taat kepadanya, kepada Rosul-Nya dan Ulil Amri (Penguasa).

Saat berbagai bantuan datang, beliau selalu mengalokasikannya utk permbangunan dan perluasan lahan pondok pesantren. Mengisyatkan bahwa seakan beliau berkata; “biarlah penerusku yg nantinya akan menata ini semua”. Dan saat ini ponpes Sunan Drajat telah begitu kokoh dgn sistemnya, sehingga seimbang dan berjalan dgn baik.

Ada pihak yg mengkritisi dgn menilai bahwa bantuan-bantuan pemerintah itu rawan “haram dan najis”, atas dasar ini pula beberapa lembaga menolak bantuan pemerintah. Lain halnya dgn pandangan Abah Kyai Ghofur, dgn tendensi kitab Ihya’-nya beliau menyampaikan sebuah pendapat yg dikemukakan Imam Al-Ghozali bahwa diperbolehkan menerima pemberian/bantuan dari siapapun yg hartanya tercampur antara halal dan haram/syubhat.

Sifat wirai terbukti pada beliau melalui ucapannya; “haram hukumnya salam templek” (haram memakai uang hasil sedekahan utk kepentingan pribadi), maka berapapun pemberian yang beliau terima akan ditashorufkan utk kepentingan pondok pesantren, sedangkan beliau memilih usaha halal lainnya utk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadinya.

Dikisahkan dalam sebuah hadits sahih, pada suatu saat baginda Nabi Muhammad SAW berkeinginan agar salah seorang sahabat menggantikannya mengimami sholat, dan beliau bermaksud mendatangi rumah-rumah utk mendapati siapapun yg tidak ikut berjamaah, maka akan beliau bakar rumahnya. Hadits ini menjadi landasan wajibnya sholat berjamaah, dan sekaligus menjadi tendensi bagi Abah Yai Ghofur yg terlihat jarang mengimami jamaah para santrinya, sebab kesibukan beliau “ngeramut pondok dan para satri itu sendiri”.

Dalam sebuah hadits pernah disinggung bahwa Allah SWT mencintai hambanya yg memiliki banyak keluarga, dan Abah Yai adalah sosok demikian itu. Diriwayatkan dalam sunan ibn majah 4121 Sabda beliau SAW ; Allah mencintai hambanya yang mukmin, faqir, yg selalu menjaga diri (dari perbuatan dosa) dan memiliki banyak (tanggung jawab) keluarga.
———————

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga beliau, sehat wal afiyat lahir batin, aamiin ya robbaal ‘alamin…

*Penulis adalah huwadimil ma’had Sunan Drajat

Berikan komentar