Pesan Dari Langit

0
262
views
Grafis Ahzay

Pesan Dari Langit

Teks : Maheera

“Gorengan! Gorengan, pisang goreng, tahu isi, tempe! Gorengan! Gorengan!” demikian Ahmad menawarkan dagangannya sepanjang jalan.

Tiap siang pulang sekolah Ahmad menjajakan gorengan demi meringankan beban hidup orang tuanya.  Sepuluh tahun yang lalu ayah Ahmad meninggal kecelakaan ketika berangkat kerja ke kantor dan meninggal. Karena kurang pandainya ibu Ahmad memanfaatkan harta benda tinggalan suaminya, maka harta yang tidak sedikit itu telah habis sama sekali.

Berbeda dengan biasanya, hari ini Ahmad dalam menawarkan dagangannya dengan roman wajah yang tampak murung. Hal itu karena semua tetangganya diundang untuk ikut kondangan atau kenduri dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, yang diadakan oleh Haji Hadi. Tapi ia sendiri tidak punya ayah seperti anak yang lain, dan karena itulah ia hanya bisa melihat.

Walau ibarat hanya sesuap nasi, namun bagi anak sekecil Ahmad khususnya, kenduri mempunyai nilai tersendiri. Lebih-lebih Ia yang tak pernah merasakan makanan yang enak. Hingga sore gorengannya hanya laku lima biji. Berhubung hari telah sore, maka Ahmad cepat-cepat pulang dengan hati sedih.

Lunglai ia mengucapkan salam, dan menemukan ibunya sedang menjahit pakaian sekolahnya yang bolong dibagian ketiaknya.

“Sudah pulang Mad? Bagaimana dagangannya?” Ibu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari baju yang dijahitnya.

“Bu, apakah Haji Hadi tidak mengundang kita?” Ahmad tidak menjawab pertanyaan ibunya, tapi menyusul dengan pertanyaan pula.

Sambil menoleh dan agak heran ibunya menjawab, “Kau jangan mimpi Mad! Kita ini orang miskin. Mana mungkin Haji sombong itu memperhitungkan kita. Kau tahu sendiri, pastilah yang diundang hanya orang-orang kaya dan terkemuka.”

            Dengan sedih ia lalu berjalan ke dapur meletakkan sisa dagangannya dan bersiap untuk mandi.

            Malam harinya selepas solat isya’ Ahmad bersiap untuk keluar.

            “Bu, aku mau belajar ke rumahnya Abdul.”

            “Iya, Nak. Jangan malam-malam ya pulangnya.”

            “Baik, Bu.” Sambil menjawab demikian Ahmad menghambur keluar. Tanpa sepengetahuan ibunya, sebelum ke rumah Abdul. Ahmad ingin melihat orang kenduri di rumah Haji Hadi. Karena dorongan perut yang amat lapar karena hanya terisi gorengan sisa jualan tadi siang. Siapa tahu nanti ada orang yang berbaik hati memberikannya makanan. Pikirnya.

            Tak lama Ia pun berdesakan dengan para undangan. Air liurnya direguk ketika mencium bau makanan enak yang menusuk hidung. Belum lama ia merasakan aroma sedap masakan, mendadak ia dikejutkan oleh suara kasar seorang yang ia kenal.

            “Kau anak miskin! Siapa yang menyuruhmu untuk datang kemari? Sana cepat pergi!”

Ahmad takut bukan main. Dengan wajah garang Haji Hadi kasar menarik tangannya.

            “Ayo, cepat pergi dari sini!”

Terpaksa Ahmad meninggalkan tempat itu  diliputi perasaan sedih bercampur malu. Dalam hati ia bertanya atas kelakuan seseorang yang sudah berpredikat Haji itu. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Abdul teman sebangku di SD tempatnya menimba ilmu sekarang. Berbeda dengannya, Abdul adalah anak Haji Sulaiman seorang pedagang yang sukses dan kaya raya.

“Ahmad! Dari mana kamu?” tanya Abdul.

“Hanya jalan-jalan, mau ke rumahmu belajar seperti biasanya.”

“Oh, begitu. Ayo kita ke rumahku.”

Sesampainya di rumah. Mereka pun serius belajar, bertanya satu sama lain tentang pelajaran yang belum difahami. Tak lama datanglah Haji Sulaiman dengan membawa makanan dari kenduri di rumah Haji Hadi.

Abdul lalu bangkit mendapatkan ayahnya.

“Ayah! Nasinya aku berikan kepada Ahmad saja ya?”

Dalam hati, Haji Sulaiman memuji kebaikan hati putranya.

“Iya, Nak! Makanlah bersama Ahmad.”

“Tidak, Yah! Biar dimakan  Ahmad saja sendiri. Aku sudah kenyang.”

            “Baiklah kalau begitu. Katakan pada Ahmad sekalian ya, besok suruh datang kemari ikut bantu-bantu. Kita juga akan mengadakan syukuran.”

            Abdul pun memberikan nasi tadi kepada Ahmad dan tidak lupa memberitahukan pesan Ayahnya. Betapa senangnya hati Ahmad menerima pemberian Abdul dan ajakan Ayahnya untuk ikut mempersiapkan acara besok.

            Malam semakin larut. Teringat ibunya yang seorang diri di rumah, akhirnya ia pun berpamitan untuk pulang. Dan sekali lagi Abdul pun mengingatkan untuk acara besok. Malam itu, akhirnya Ahmad dan ibunya bisa mersakan makanan lezat yang sangat jarang sekali ditemuinya.

            Para undangan telah hadir. Tua, muda, kaya, miskin termasuk hartawan kikir Haji Hadi tak ketinggalan. Sesuai janjinya, Ahmad pun juga ikut mempersiapkan jalannya acara. Setelah kata pembukaan dari Haji Sulaiman. Pembawa acara pun mempersilahkan sang Qori’ untuk tampil  melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

            Semua yang hadir mendengarkan dengan penuh perhatian. Suasana tenang, bahkan angin pun ikut tenang. Mereka dibuat terpesona oleh suara merdu yang mengalun-alun dan bacaan Qur’an yang sangat fasih. Ahmad membacakan surat Al Maa’uun (barang-barang yang berharga) ayat satu sampai tujuh lengkap dengan terjemahnya.

“Tahukah engkau orang yang sedang mendustakan agama? Itulah orang yang telah menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan pada orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat. Mereka lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat sesuatu amal hanya inginkan pujian dari orang lain. Dan enggan memberikan bantuan”

 Dengan pandai serta gayanya membawakan bacaan itu, Ahmad berhasil mengetuk hati para tamu. Mereka terharu, karena dengan ayat tadi, seakan-akan Ahmad meminta pada para undangan untuk memperhatikan nasibnya, seluruh anak yatim dan para orang miskin.

Selesai membaca Ahmad pun kembali ke tempat duduknya semula. Namun Ia kaget bukan main ketika melihat Haji Hadi tergesa-gesa menghampiri dan memeluknya erat-erat.

“Ahmad, maafkan Bapak selama ini. Bapak benar-benar menyesal dan insyaf atas kekhilafan Bapak.”

“Tidak apa-apa Pak Haji. Ahmad sudah memaafkan Pak Haji dari dulu. Ahmad tidak pernah ada dendam kepada Pak Haji.” Jawab Ahmad tetap tenang.

Tangan Haji Hadi merogoh sakunya, dan memberikan lima lembar uang ratusan kepada Ahmad.

“Pakailah uang ini untuk sekolahmu dan keperluan ibumu.”

“Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak Haji.”

Malam nishfu sya’ban. Malam itu tak ada perasaan lain di hati Ahmad kecuali perasaan bahagia dan bersyukur atas Rahmat dan nikmat yang diterimanya. Ayat istimewa yang merupakan pesan dari langit itu telah mengubah jalan hidupnya.

Berikan komentar