Pengabdian Masyarakat Oleh Santri Diniyah Wali Songo Sunan Drajat

0
168
views
Bersama santri-santri

Pengabdian Masyarakat Oleh Santri Diniyah Wali Songo Sunan Drajat

Liputan        : Sulton
Penyunting: Redaksi

 

       Udara yang segar nan sejuk. Menjadi sambutan indah bagi santri madrasah diniyah (madin) Wali Songo Sunan Drajat. Santri akhir dari perjalanan belajar mereka selama kurang lebih enam tahun, kini mereka bersiap memberikan ilmunya ke desa yang membutuhkan.

      Desa Tejo Kanor Bojonegoro, menjadi tempat pengabdian di tahun ini. Pengabdian masyarakat yang dilaksanakan mulai 20 Februari hingga 04 April 2018 ini membawa segudang pengalaman yang berkesan.

      Dari 23 santri ini. Mereka dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian pada pengabdian sosial masyarakat, dan satu lagi pada bagian pendidikan agama. Situasi desa yang sangat mendukung ini, menajadikan semangat mereka kian membara. Desa Tejo merupakan desa yang sudah terbilang maju bila dilihat dari sisi lingkungan. Namun masih minim dalam hal tenaga pengajar. Terlebih pada TPQ dan Madin di desa tersebut.

      Desa ini sebelumnya pernah digunakan pengabdian juga. Namun hal itu sudah sangat lama, yaitu kisaran tahun 1990-an.

      Kebaikan dan keramahan masyarakat di desa ini terlihat dari luwesnya dalam bersosial. Tidak hanya itu, mereka juga kerap mengantarkan hidangan hingga tiga kali sehari.

      Tentu dengan kenyamanan dari masyarakat yang santri dapatkan. Mereka tidak boleh duduk manis saja. Sebab mereka membawa misi jihad dengan pendidikan. Inilah toreqot ponpes Sunan Drajat, tarekat pendidikan. Yaitu bagaimana caranya agar masyarakat dapat memahami agama melalaui ilmu-ilmu yang mereka peroleh selama di pesantren.

      Tidak terasa waktu berjalan begitu indah. Hingga akhirnya mereka bersiap-siap untuk kembali menuju pesantren. Rasa haru mulai pecah ketika tangan saling bertemu, sebagai tanda mereka akan kembali ke pesantren. Masyarakat sekitar, baik dari anak kecil maupun  ibu-ibu ikut meneteskan air mata. Yang membuat lebih terharu ialah saat tangan mereka melekat pada mbah yai (sebutan imam musholah setempat), orang yang amat ikhlas lagi bersahaja ini, membuat pipi santri-santri terbasuh oleh air mata.

      Pesan yang tersirat sederhana dari mereka. Ingatlah desa ini, silaturahim-lah kemari. Dan bila berkenan, abdikanlah untuk waktu yang lama di desa tercinta ini.⌂

____________

Berikan komentar