Penantian terakhir

0
180
views
Penantian Terakhir

Oleh Al-Falaah

Setelah pengajian rutin pagi itu, fitri segera kembali ke asrama tempatnya beristirahat di pesantren ini. Kebanyakan temannya akan menunggu kedatangan masing-masing orang tua yang akan menjenguknya, karena jum’at menjadi satu”nya hari untuk saling melepas rindu.

“Mau kemana fit? nunggu ta?”, tanya dinda, teman sekamar fitri.
“iya din”, Ujarnya tersenyum menanggapi istilah yang sering kali dipakai temannya untuk menunggu sebuah jengukan dari keluarga.

Meskipun pantulan pengeras suara menggema memenuhi lorong-lorong asrama setiap ada santriwati yang dipanggil melalui corong berwarna putih itu. Fitri tetap berjalan santai melewati beberapa temannya yang sudah bertemu dengan sang orang tua.

Langkah fitri terhenti sejenak ketika ia mulai memasuki mushollah kecil di pesantrennya. kemudian ia memilih sudut yang terlihat cocok untuk ditempati menunaikan amalan istiqomahnya, sholat dluha. Tak perlu mengambil wudhu lagi karena belum hilang kesucian air wudhu sebelum ngaji tadi, Ia pun memakai mukenah yang dibawa dari kamarnya lalu mendirikan beberapa rokaat sholat penambah rizki tersebut.

setelah selesai meminta kemudahan rizki dan ilmu kepada Sang Pencipta, fitri duduk terdiam di atas syajadah alas sujudnya. Cukup lama, hingga dinda yang tak sengaja melihat fitri penasaran dengan apa yang dilakukan temannya itu.

“Fit? katanya nunggu?”, tanya dinda.
“Eh? dinda, hehe iya ini lagi nunggu”, jawab Fitri agak kaget.
“Dari sini juga kedengeran kok, enak lebih tenang dari pada di asrama”, lanjut Fitri menjawab raut muka Dinda yang sempat belum paham dengan jawabannya tadi.
“Iya sih, eh iya, gimana kalau kita nunggu di depan musholah? tuh aku juga lagi dijenguk sama keluarga”, ajak dinda sambil menunjuk ke arah pintu depan mushollah.
“Em… oke deh, kamu duluan din”, jawab Fitri. Dinda pun mengangguk dan menuju ke depan mushollah terlebih dahulu, karena dia tau, fitri pasti akan melakukan sujud syukur terlebih dahulu untuk mengakhiri amalannya tersebut.

1,2,3 sampai 5 menit kemudian, Dinda menunggu Fitri di depan mushollah dengan orang tuanya sambil bercerita tentang aktivitas yang ia jalani selama di pesantren dan bercanda tawa dengan adiknya yang masih menginjak bangku kelas 4 Madrasah Ibtida’iyah itu.

Pada menit ke-10, Dinda baru sadar bahwa dia sedang menunggu Fitri yang tak kunjung datang, Ia pun masuk kembali ke dalam mushollah untuk memanggilnya lagi. Di sudut mushollah tersebut, Fitri ternyata masih melakukan sujud. Dengan sabar, Dinda menunggunya tak jauh dari shof tempat Fitri sujud.

Namun beberapa menit Dinda menunggu, fitri tak kunjung bangun dari sujudnya, sehingga lama kelamaan, dia memberanikan diri untuk mencoba menyadarkan temannya itu.
“Fit? ayo fit, udah ditunggu sama keluargaku dari tadi lho”, ujarnya pelan, takut mengganggu kekhusyukan temannya tersebut. Karena tak ada respon dari Fitri, Dinda mulai panik.
“Fitri? kamu ga papa kan?”, Dinda mulai menyentuh dan menggoncang pelan tubuh Fitri. Ia sangat kaget saat memegang tangan temannya itu sudah dingin dan nadinya sudah tak berdetak.
“Lho? fitrii!!?”, isak tangis Dinda mulai pecah mengetahui bahwa temannya itu ternyata bukan menunggu untuk dijenguk oleh orang tuanya, melainkan penantian terakhir dari Yang Maha Kuasa.

Innalillahi Wa Innailaihi Roji’uun.
Semoga Amal Ibadahmu diterima oleh Allah SWT dan ditempatkan di sisi-Nya bersama orang-orang yang mati syahid, kawan!
Amiin
#AFewYearsAgo
#AlFalaah2016

Berikan komentar