Mad Onthel

0
7
views
Mad Onthel - Oleh: Al-Falaah

“Mad Rahmad, udah besar kok ga bisa naik motor!”, sudah sering sekali perkataan itu didengar oleh telinga Rahmad, namun ia hanya membalasnya dengan senyuman. Sejak kecil Rahmad memang tidak dibiarkan oleh orang tuanya untuk bergaul bebas dengan temannya di luar sana, ia lebih sering di rumah untuk membantu ibunya berjualan ketika musim libur tiba, keluar pun hanya sekedar untuk berbelanja ke pasar atau ketika waktu sholat berjamaah tiba.

Sore itu sang mentari mulai tenggelam di ufuk barat, sebentar lagi akan tiba waktu sholat maghrib. Rahmad mulai mengeluarkan onthel pemberian kakeknya dari garasi rumahnya, tak seperti kebanyakan anak muda yang lebih suka memakai motor sebagai kendaraan utama mereka saat bepergian. Setelah berpamitan kepada orang tuanya, ia mengayuh pelan onthel tersebut diawali dengan bismillah menuju masjid di desa sebelah yang jaraknya satu kilometer dari rumah.

Pelan tapi pasti Rahmad mengayuh sepedanya sambil berhati-hati menelusuri jalanan yang agak licin akibat hujan sore tadi, mengguanakan sepeda yang dipasangi bendera merah putih oleh kakeknya, ia tak berani mengambil bendera yang menjadi bukti bahwa dulu sang kakek adalah pejuang kemerdekaan tersebut. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan beberapa temannya yang sedang duduk-duduk di depan pos kamling dekat pertigaan menuju ke masjid.

“Oy Mad? Mau kemana?”, tanya seorang dari mereka.
“Ke masjid kang, mau jamaah maghrib”, jawab Rahmad. Semenjak ia menjadi santri, panggilan “Kang” sudah biasa ia berikan kepada teman-teman rumahnya.
“Kok ngonthel? ga pake motor aja mad?”, ejek temannya.
“Ga kang, enak gini sambil nyantai-nyantai, kata Rahmad sambil tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.
“Oh ya, hati-hati Mad”, ucap temannya.
“Iya kang, monggo duluan!”, balas Rahmad sambil melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya di masjid, Adzan pun mulai berkumandang dengan cengkok dan nada layaknya khas kota mekkah, sekilas Rahmad teringat dengan suasana pesantrennya, berdiri di samping serambi masjid menjawab panggilan adzan dengan mata terpejam, merasakan angin dingin sisa hujan tadi menerpa kulitnya.
“Aamiin…”, Ucap Rahmad setelah menjawab adzan lengkap dengan do’a sesudahnya. Setelah itu Rahmad segera mengeluarkan baju taqwa dari dalam tas yang ia bawa sejak tadi, memakainya lalu berjalan menuju ke tempat wudlu untuk bersiap melakukan jamaah sholat maghrib.

(…)

Lalu lalang para santri tak kalah dengan keramaian yang ada di pasar tradisonal, ribuan santri sibuk dengan urusannya masing-masing mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa untuk pulang ke kampung halamannya, H-3 Idul Fitri adalah waktu liburan yang ditunggu-tunggu ribuan santri dari berbagai daerah ini.
Termasuk Rahmad, ia akan pulang ke desanya bersama dengan Riski, kenalannya dari desa sebelah tempat masjid yang biasa ia gunakan untuk jamaah sholat 5 waktu. Riski menganggap Rahmad adalah sahabatnya yang paling unik, karena sampai semester 6 kuliah di pesantren ini ia tetap setia menggunakan sepeda onthel antik, bahkan untuk transportasinya dari rumah ke pesantren ataupun sebaliknya.
“Ga capek kah sampean mad? 20 Kilo ngonthel?”, tanya Riski.
“Hehe, santai aja kang, insyaallah ga capek kok, asal niatnya dibuat olah raga”, jawab Rahmad sambil mengelap sepedanya itu untuk persiapan pulang sore nanti.
“Apalagi ditemani sama sobat terbaikku dari desa sebelah”, tambahnya sambil tersenyum dan mengetipkan sebelah mata untuk Riski.
“Haha dasar! okelah nanti kita pulang bareng, tapi nanti ane pake motor gapapa ya?”, Pinta Riski.
“Gapapa kok kang, asal jangan ditinggal aja, hehe…” Rahmad pun menyetujuinya.
Sore pun tiba, sehabis sholat ashar di masjid agung pesantren, mereka berdua segera melakukan perjalanan menuju kampung halaman, tak lupa berpamitan dengan teman-temannya yang tidak pulang pada liburan kali ini, kebanyakan dari mereka ada dari luar jawa sehingga jarang pulang ke tempat asalnya.
Dalam perjalanan, kedua sahabat itu mengendarai kendaraanya masing-masing sambil bercerita ngalor ngidul, sesekali jika Rahmad sudah terlihat kelelahan, Riski menggandeng sepeda Rahmad dengan satu tangannya, sehingga Rahmad tak perlu mengayuh. Menjelang maghrib keduanya baru sampai di desa Riski, mereka berhenti sejenak di masjid tempat pertama keduanya bertemu untuk menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu.
“Makasih kang, udah bantu nderek sepeda ane tadi, perjalanan kali ini ga begitu melelahkan”, ucap Rahmad sehabis sholat maghrib sambil duduk di serambi masjid.
“haha iya kang, sama-sama. Mau diderek lagi ta sepedanya sampai rumah?”, tawar Riski.
“udah kang, cukup sampai di sini aja, nanti ke rumah ane naik sepeda sendiri. Oh ya, habis ini kita jalan-jalan ke alun-alun kota yuk! udah lama ga ke sana”, ajak Rahmad.
“Oke juga tuh kang, nanti ane tunggu di rumah ya?” ucap Riski sambil menunjukkan rumah yang tak jauh dari masjid itu.
“Siap 86, komandan!”, jawab Rahmad sambil menirukan gaya seorang tentara yang sedang hormat kepada komandannya.
Mereka berdua pun berpisah dan menuju rumah masing-masing untuk menemui keluarganya yang sudah lama tak jumpa, melepas rindu dan bercerita pengalaman di pesantren. Sekitar satu jam kemudian, ada sebuah Honda Jazz hitam yang berhenti tepat di depan rumah Riski, rumahnya memang dekat jalan aspal sehingga cukup mudah untuk dijangkau.

“Assalamu’alaikum bu, Riskinya ada?”, ucap orang tersebut setelah turun dari kendaraanya dan bersalaman dengan ibunya Riski yang ada di halaman depan rumah.
“Wa’alaikumsalam nak, itu Riski di dalam lagi cerita-cerita sama adiknya”, jawab beliau sambil menunjuk ke dalam rumah.
“Monggo nak, pinarak“, pinta sang ibu mempersilahkan orang itu masuk.
“Njeh bu”, dengan memakai adab seorang santri ia masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu, menunggu Riski keluar.
Ibunya Riski pun masuk ke dalam dan memanggil Riski untuk menemui tamu yang sedang mencarinya itu, sembari menyiapkan beberapa cangkir teh untuknya.

“Lho, Rahmad? ke mana sepeda onthel ente?”, Sambil bersalaman Riski menanyakan keheranannya kepada orang itu.
“Hehe, kita nanti ke alun-alun pakai itu, sekalian ajak keluarga ente bareng-bareng”, jawab orang itu yang ternyata adalah Rahmad.
“Eh? Mobil itu? milikmu?”, Riski semakin heran dan kagum dengan sahabatnya yang satu ini.
“Iyapss, Alhamdulillah kang, barokahnya ngonthel hehe…” Canda Rahmad, tak lama ibunya Riski keluar dengan membawa beberapa suguhan.
“Monggo nak, dicicipi jajan dan minumnya, maaf cuma seadanya nak”, Beliau mempersilahkan.
“Wah, terima kasih bu, jadi ngrepotin ibu”, ucap Riski.
“Gapapa kok nak, anggep aja rumah sendiri. Sampean teman satu pesantrennya Riski ya nak?” tanya sang Ibu.
“iya bu, nama saya Rahmad bu” jawab Riski sambil tersenyum mengenalkan dirinya.
“Hebat nak Rahmad sudah bisa mengendarai mobil sendiri, Gimana ceritanya nak?”, puji ibunya Riski.

Rahmad pun mulai bercerita semua pengalaman yang ia lalui sehingga bisa seperti itu, tentang patuhnya kepada orang tua, tentang bisnisnya yang tidak banyak diketahui orang lain dan tentang kesabarannya untuk ngonthel.

“Memang benar kau tak bisa naik sepeda motor, tapi kau bisa naik mobil, Good Job Sobat!”, Gumam Riski di dalam hati mengagumi kesuksesan dibalik kesederhanaan sahabatnya ini.

Berikan komentar