Kumandang Adzan

0
21
views
Masjid Agung PPSD

“Buk. Bapak ingin anak kita dipondokkan.” Apa salahku? Jangan ditanya. Sebab aku sendiri tidak mengetahui apa alasannya. Kalau benar aku anak yang bobrok, perlu untuk diperbaiki. Maka tak yang salah dengan pilihan kedua orang tuaku. Dipondokkan! Bukankah kenakalanku perlu dibenahi.

Aku dengar dari omongan tetangga, memang benar anak yang nakal harus dipondokkan. Rata-rata berpendapat seperti itu, tapi minoritasnya masih ada yang berlatar belakang keluarga kiai atau minat belajar dilingkungan pesantren. Tapi tetap saja, nakal ya nakal. Titik. Dan oleh sebab itu, aku benci sangat membenci pendapat bapakku.

Dua minggu pada suasana ramadhan. Aku diberangkatkan mondok jauh ke pesisir pantura. Menghabiskan perjalanan kurang lebih tiga jam, lumayan untuk sekedar membingungkan aku agar tidak kembali pulang. Setelah lama ibuku sibuk mengurus administrasi pendaftaran, beliau berpamitan, alias membuangku.

“Jaga dirimu nak. Makan yang teratur. Bertemanlah dengan teman yang baik.” Ibu memelukku.

“Mengapa bapak tak ikut?”

“Ibu sudah bilang. Bapakmu sibuk bekerja.”

“Bapak kejam!”

Sekali lagi ibu memelukku erat. Aku bisa mendengar tangisnya. “Ia tak pernah membencimu nak, bapak sayang kamu..”

Dibuang. Begitulah pikiranku. Saban hari terlintas masa-masa ibu sedang berpamitan, meninggalkan anaknya yang entah di mana. Sedih rasanya dibuang orang tua sendiri. Sendirian di tempat berantah. Di sini sangat asing. Aku tak mengenal satupun di antara santrisantri lainnya, karena aku tidak mau mengenal atau dikenal. Mereka bukan gayaku. Mereka sosok lain dari pada orang-orang yang pernah aku kenal. Bahkan, pembicaraan mereka seputar hafalan, sorogan, dan beberapa kitab-kitab gundul yang rumit dan membosankan. Aku hampir ingin melemparnya melihatnya saja membuat pusing, apalagi disuruh membacanya. Itu sebab aku sering tidur saat pelajaran dan menyendiri mencari ketenangan. Misal di masjid.

Sore itu ketika senja bercampur merah jambu di awang-awang, sedikit awan hitam menebar memenuhinya. Burung berarak-arakan menyambut maghrib, di depan masjid.

Terdengar lantunan adzan yang damai. Sangat menenangkan sekali. Ah…

Merdu. Aku segera bergegas menuju masjid, mengambil air wudlu, dan cepat-cepat menuju shof paling depan. Lantunan adzan itu seperti menghipnotisku melakukan demikian. Apa boleh buat, aku sudah bersimpuh dibelakang tempat imam. Di shof paling depan. Tapi di mana gerangan yang berkumandang adzan merdu itu? Aku tidak menemukannya.

“Mas.” Seorang seumuran duduk di sampingku. “Mas dari mana asalnya? Kok enggak pernah kelihatan.”

“Dari Bojonegoro mas.” Nadaku memelan.

“Santri baru ya? Pantesan enggak pernah lihat. Soalnya tempat saya di sini terus.”

“Waduh. Maaf mas kalau saya merebut tempatmu.”

“Santai. Anggap saja ini tanda pertemanan kita.” Tak ada terusan darinya. Ia terpaku menatap jam. Lantas ia berdiri. Mengumandangkan iqomat.

Masya Allah… aku bahkan tidak memercayai dan menduga. Bahwa suara merdu yang tadi aku dengar, benar-benar miliknya. Sangat merdu dan menenangkan. Nyanyiannya, lantunan dan cengkok, serta suara tinggi khas itu persis seperti adzan tadi. Tak kusangka lantunan itu seperti yang pernah aku dengar di televisi, kini benar-benar aku bisa mendengarnya secara telinga telanjang. Lantunan yang tak sembarang melantun, namun seperti nyanyian yang fasih dilakukan seorang ahli, terlatih. Sehingga bila ada orang yang mendengarnya, ia seperti diseret, terhipnotis, bahkan menangis. Aku tak kuasa menirunya. Bahkan tak pandai mencobanya. Siapa dia? Di mana ia mempelajarinya? aku ingin segera diajarinya.

“Apa kau bilang, apa aku tak salah dengar?” ia berguling-guling menahan tawa.

“Kamu mengejekku? Aku serius! Dari lubuk hatiku paling dalam.”

“Sebentar… beri aku waktu menyelesaikan tawaku.”

“Benar-benar kamu ini.” Ia tetap menertawaiku.

Namun tak mudah untuk membujuknya. Berkali-kali ia member harapan palsu. Kadang saat aku memergokinya, ia kabur. Ia selalu menghindar dikala aku melihatnya. Kadang aku meneror dia—menuliskan bahwa aku tidak akan menyerah—di manapun itu, di lemarinya, di runag kelas, di ambang pintu Ketika ia hendak mandi. Karena kesal dengan tingkah. Akhirnya ia memutuskan.

“Siapa kamu?”

“Siapa aku!”

“Ya namamu.”

“Rizal.”

“Oke Rizal se-”

“Eh bentar,” aku memotong “Aku belum tahu namamu?”

“Panggil saja aku senior.”

Aku melotot

“Baiklah. Namaku Doni. Oke Rizal Sekarang gini,” Ia diam, membuat aku tidak sabaran menunggunya. “Kamu memintaku untuk mengajarimu adzan,” aku mengangguk.

“Tidak,” aku memiringkan sebelah alisku “Karena itu mustahil. Aku sendiri tidak tahu cara adzan.”

Apa yang dia bilang. Suara adzan fasih semerdu itu. Bahkan tak satupun santri yang bisa menandinginya. Dan sekarang aku berhadapan dengan muadzin yang profesional ini, berkata tidak tahu cara adzan!

“Ngaco kamu ini. Adzan semerdu itu, kamu bilang tak bisa adzan.”

Ia menggeleng. “Bukannya aku tidak bisa, tapi aku tak tahu cara mengajarkannya. Aku bahkan tidak ingat kapan pertama kali suaraku bisa semerdu itu.”

Ia terdiam, aku juga diam.

“Tapi setidaknya aku bisa memberimu saran.” Matanya menyapu sekitaran. Bingung memulainya. “Coba ingat-ingat bapakmu.”

Cih apa yang diingat dari orang yang sudah membuangku.

“Kenapa, apa kamu bertengkar dengannya.” Aku mengangkat alis—menyatakan iya.

“Apa kamu tahu, sebenarnya diantara saudara-saudaraku. Aku yang paling buruk menjadi muadzin, bahkan aku sempat ingin menyerah.” Doni menghirup napas dalam-dalam. Bibirnya tersenyum lebar. “Aku tinggal dikehidupan pesisir. Bapakku bekerja sebagai nelayan. Setiap pagi buta bapak dan abangku pergi ke laut dan pulang di siang harinya. Tak jauh dari pelabuhan ada mushola. Tempat itulah yang menjadi patokan kembali ke darat. Biasa aku adzan di mushola itu. Jadi tak jarang bapak menjadi pendengar pertama adzanku. Dan ia tak pernah berkomentar dengan suaraku.”

“Bahkan ada satu tragedi yang menimpa bapakku. Waktu itu mesin desel perahu tiba-tiba mati di tengah laut. Abangku sudah berusaha menyalakan, tapi nihil. Tak ada cara lain selain berenang hingga ke daratan. Padahal, Sejauh mata memandang tak terlihat apapun selain laut dan langit. Tak mungkin baginya berenang sujauh itu walau dengan pelampung. Apa kau tahu apa yang bakal terjadi,” Aku menggeleng “Kumandang Adzanku didengarnya. Dan entah sebab apa, tiba-tiba mesin kapal bisa menyala kembali. Bapak tak henti-henti mengelus kepala saat menceritakan kejadian itu.”

Doni terdiam, menatapku dalam-dalam.

“Lalu apa hubungannya bapak dengan adzan?”

“Agh… mengapa kamu tidak mengerti sih.” Wajahnya tiba-tiba sengit, “Pernahkah kamu merasakan penyesalan kehilangannya? Pernahkan kamu meresa orang yang kamu cintai tak bisa kembali?” Doni mendengus kesal. Ia menahan tangis.

“Maaf aku tidak bermaksut untuk…”

“Sudahlah.” Ia tersenyum lagi. Perubahan yang drastis. “Intinya begitulah. Oke itu saranku.”

“Apa?”

“Udah ah. Ayo ke kantin. Laper.” Doni mengulur tangan, bermaksud ingin ditraktir.

Tiga hari sebelum lebaran. Waktu libur sudah tiba. saatnya pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan menuju rumah. Hujan mengguyur deras, membuat embun di kaca bis. Aku memainkannya, menggambar sesukaku.

Aku masih belum mengerti apa yang dikatakan Doni. Tak satupun. Tak ada yang bisa diharapkan dari dia. Namun, cerita bapaknya yang telah membuat dirinya terinspirasi. Itulah yang selalu mengiang di kepala. Mengapa harus orang itu. Aku bahkah tak habis berpikir akan bertemu dengan orang yang membuangku. Ah maksudku bapakku. Doni. Ia sama dengan aku, sama-sama santri, sama-sama dibuang. Pikiranku selalu mengada-ada. Kata ‘dibuang’ terlalu kejam. Aku rasa, benar kata Doni. Setidaknya, berkat usahanya berhasil membuatku kangen dengan bapak dan ibuku. Ikatan yang rumit.

Kumandang adzan terdengar saling sahut menyahut. Sedang awan masih mendung. Deras hujan tak menghalangi merdunya, masih terdengar, masih terasa. Adzan-adzan mengiringku hingga ke rumah.

“Assalamualaikum, Aku pulang.”

“Waalaikumsalam.” Sahut ibuk dari dapur. “Bagaimana, lancar?”

“Alhamdulillah, seperti yang diharapkan.” Tak aku temukan yang aku cari. “Bapak mana?”

Ibu menatapku. “Lebaran tahun ini bapakmu tidak bisa pulang.”

Berikan komentar