Ketika Memasuki Dusun Cinta

0
137
views
Ketika Memasuki Dusun Cinta
Foto Oleh Aharongershon

Ketika Memasuki Dusun Cinta

      Teks: A h z a y          

               Ditengah dinginnya malam, seekor anai-anai terbang dengan sayapnya yang rapuh. Derasnya hujan, suara guntur yang menggelegar disertai angin kencang, ia terus terbang tanpa takut tumbang. Semangatnya hanya untuk satu tujuan, yakni ‘Cahaya’ penerang.
                Ketika ia hendak memasuki dusun “Cinta”, ada spanduk terpasang di pintu gerbang, yang bertuliskan “Selamat Datang Derita”. Namun, ia sadar bahwa derita hanya akan dirasakan oleh mereka yang miskin cinta. Meski hujan, badai, dan dingin malam mengoyak, jika hati sudah dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang, apalah arti derita itu dibanding bertemu dengan kekasih. Takkan ada derita lagi.
               Sesampainya di jendela kaca. Ia mengetuk-ngetuk. Tuk tuk tuk.. “Siapa itu?” tanya lampu. “Hi lampu. Aku Anai-anai!”. “Mengapa kau datang kemari, pada malam yang gelap, dengan hujan yang deras, dan suara gemuruh yang tiada henti. Bukankah kamu akan menemukan ajal di tengah jalan tadi?”. “Wahai lampu, kalau toh itu ongkos yang aku bayar, biarlah aku mati dalam menembus cahaya panasmu”.”Bukankah bila kau sampai sini, kau juga akan menemukan titik yang sama (ajal)? Di bawah panasnya cahayaku ini?”. “ Hai lampu, bila memang itu adalah ongkos terakhirku, itulah yang aku pahami, di ujung derita, engkau bermahkota di jiwaku”.
—————————

                Pun demikian ketika orang sudah menuju kepada DIA yang Maha-CINTA. Seperti anai-anai, semua manusia tak betah dengan kegelapan. Ia mencari cahaya. Dengan akal dan hatinya. Dia pertaruhkan apapun demi Dia. Perjalanan itu penuh dengan bunga-bunga cinta, meski di mata orang kadang terlihat berbeda.

              Jika cintamu kepada satu kekasih, satu manusia saja sedemikian membuncah. Bagaimana jika yang kau cintai adalah Dia yang memberi cinta kepada seluruh manusia? Tak bisa digambarkan dengan ungkapan maupun kata.
Wallahu A’lam.
————
Inspired : muslimtainment of KH. Amin Budi Harjo
Edited : Denalys

Berikan komentar