KAKU

0
13
views
Cerpen Kaku

Hai wanita di sebrang telpon. Seperti api yang berkoar, berkobar, dan membakar tanpa suara apapun kecuali bunyi percikannya.

Begitu aku memegang telponku yang berat ketika aku menekan huruf-huruf dan menyusun kalimat demi kalimat untukmu. Huruf-huruf itu nampak membingungkan. Huruf yang tidak bergerak itu tetap saja terpapang di layar telpon meskipun kamu tidak menghiraukannya dan mungkin kamu masih tetap duduk dengan posisi yang sama, waktu yang sama, dan bahkan suasana yang tetap sama.

Wanita di sebrang telpon yang tidak membalas pesanku, satupun tak pernah. Kamu begitu rahasia dan aku menyukainya sehingga betah berlama-lama menekan huruf-huruf di layar telpon sentuh. aku Hanya menginginkan pesanku terkirim di telpon sentuhmu. Seberapa banyaknya huruf-huruf itu terkirim, tetap saja kamu hanya menatapnya tanpa peduli untuk membalasnya kembali.

Hai kamu, wanita di sebrang telpon. Aku ingin mengajakmu ke bintang, tempat nongkrong terbaik di jagat raya dengan fasilitas yang tak ada duanya. Kamu tahu, disana kamu akan disuguhkan bulan yang terpapang terang dan masih terpapang sedemikian rupa sehingga sunyi akan terusir. disana juga ada komet yang indah dengan ekornya yang berkiprah semburat warna warni. Komet dengan komet lainnya akan sedang kejar-kejaran dan bersembunyi di balik bintang lantas bersembunyi di balik bintang sebelahnya, seperti permainan petak umpet.

Apakah kamu masih mendengarkanku “wanita di sebrang telpon”. Sebenarnya aku benci berkata-kata. Karena itu hanya bertele-tele, membingungkan. kata-kata bisa diubah artinya dan arti bisa dirubah maknanya, percuma. Walau toh aku tetap saja menekan huruf-huruf agar aku mau berlama-lama denganmu. “disebrang sana, kamu ngapain?”.

Hai wanita yang mungkin disebrang telpon, jika kamu punya kehidupan selain di sebrang telpon, tolong ceritakan kepada anak-anak, kepada orang yang mungkin dekat dengan kamu. Ceritakan, ada seorang pria yang benci berkata-kata namun mau berlama-lama menyusun huruf-huruf untukmu. Hanya untukmu saja. Jangan lupa kamu katakan pada mereka, jika wanita di sebrang telpon itu tetap kaku? Pria ini akan mengajaknya ke bintang bersama bulan yang tetap terpapang dan komet yang berkejar-kejaran.

Hai, wanita di sebrang telpon. Aku harap kamu masih mendengarkanku.

@@@

Hallo, pria di sebrang telpon. Kamu bersikeras mengirim pesan kepadaku. Sudah sekian kalinya pesan-pesan itu berbunyi di telpon sentuh. Meskipun aku benar-benar mengetahuinya, tak satupun pesanmu aku hiraukan. Hanya saja kamu belum tahu? Dan bahkan bumi dengan segala penghuninya tidak mengetahuinya. Mungkin juga tidak mau tahu.

Aku, wanita di sebrang telpon, tidak memiliki jari. Kelima limanya. Hanya tangan saja yang bisa aku miliki. Kamu mungkin mengira jika wanita kaku itu adalah aku, dan kamu mencintainya. Itulah yang aku takuti.

Pria di sebrang telpon, dengan nada khasmu yang bertele-tele. Jika toh aku memiliki jari, pesan-pesan yang sudah terkirim pasti akan aku baca, menghayatinya, dan berkhayal-khayal di dalam telpon sentuh. Aku akan terbang menuju lapisan yang kasat mata dengan warna dan bentuk yang tidak aku kenal, berenang dan terbang menuju kamu. Kita akan bercerita mengenai bintang, dengan ekor yang berkiprah warna kerlap-kerlip, seperti percik api, namun berwarna meriah. Tempat nongkrong terbaik di jagat raya dengan fasilitas yang tak ada duanya. Ada juga bulan yang terang terpapang dan masih terpapang sedemikian rupa. Juga komet komet yang berkejar-kejaran.

Hallo, aku ini wanita pengkhayal dan bukan wanita kaku. Aku tidak memiliki jari. Aku berjalan menggunakan kursi roda. Aku memimpikan makan menggunakan tangan, bagaimana rasanya? Toh aku tidak bisa membalas pesanmu, setiap telpon sentuhku berbunyi.

Apalagi menyusun huruf-huruf di telpon sentuh, pasti asyik. Kamu pasti menyukai kata-kata dengan makna yang kemana-mana. Huruf-hurufmu membuat aku terseret di zona memimpikan. Seperti apa dirimu? apakah kamu Seperti manusia atau seperti penghuni bumi yang kasat mata.

Hallo, pria di sebrang telpon. Semoga kita bertemu di abad-abad baru.

Banjarwati, Fikri Abdurrahman

(Rabu, 12/02/2020)

Berikan komentar