Isra` Mi`raj Hanya Mimpi?, Kenalan Dulu Yuk!

0
190
views
isra miraj
isra miraj

Isra` Mi`raj malam 27 Rajab

Seluruh umat Islam, hampir di seruh dunia, termasuk umat Islam di Indonesia, merayakan malam 27 Rajab. Itulah malam yang dinamai “Malam Mi`raj”.

Malam 27 Rajab dianggap malam yang suci, malam kramat, malam bersejarah dan malam yang luar biasa, karena pada waktu tersebut nabi muhammad Saw. Melakukan Mi`raj, yaitu berjalan dari Makkah ke Baitul Maqdis (Palestina) dan dari sana naik sampai langit kesatu, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh. Bahkan naik lagi sampai ke Shidratil Muntaha dan sampai pada suatu tempat yang bernama Mustawa.

Perjalanan tersebut dianggap sebagai Mu`jizat yang sangat besar dari Nabi Muhammad Saw. Yaitu pekerjaan yang luar biasa dari Nabi-nabi, yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia biasa. Oleh karena hal yang luar biasa itu, peringatan isra` mi`raj sangat dihormati dan selalu ada perayaan yang luar biasa ketika waktunya sudah datang menyapa, sesuai dengan keadaanya masing-masing. Perayaan itu adalah bukti kecintaan seorang Muslim pada Nabinya, bukti kasih sayangnya dan bukti keimanannya yang tulus dan ikhlas. Dari sisi lain dapat dilihat bahwa setiap tahun, perayaan isra` mi`raj adalah suatu syi`ar dari kebesaran Islam, suatu kebanggan dari umat Islam.

Isra` ialah berjalan di malam hari dari Makkah ke Baitul Maqdis (Palestina), dan Mi`raj ialah naik ke langit, sampai langit yang ketujuh, bahkan naik sampai tempat yang lebih tinggi lagi, yaitu Shidratil Muntaha dan Mustawa. Hal ini dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Dengan ditemani oleh Malaikat Jibril, setahun sebelum beliau hijrah dari Makkah ke Madinah yaitu malam Senin 27 Rajab, bertepatan dengan tahun 621 M.

Inilah i`tiqad umat Islam, Kaum Ahlusunah wal jamaah, dan begitulah i`tiqad atau kepercayaan Jumhur Umat Islam di  atas dunia dari dulu sampai sekarang. Orang yang tidak mempercayai hal ini dianggap kaum Mu`tazilah yang sesat yang harus diinsyafkan.

Dalil dari kepercayaan ini adalah:

 

سبحن الذي أسراى بعبده ليلا من المسجد الحرام الى المسجد الأقصا الذى باركنا حوله لنريه من ايتنا إنه هو السمع البصير  .

 

Artinya

“Maha suci Allah yang telah memperjalankan Hamba-Nya (Nabi Muhammad Saw.) pada suatu malam dari Masjid Al-Haram (Masjid Makkah) sampai ke Masjid Aqsa (Masjid Palestina) yang kami berkati sekelilingnya, untuk kami perlihatkan kepadanya ayat-ayat kami sesungguhnya Tuhan maha mendengar lagi maha melihat”. (Al-Isra`:1).

Dalam ayat ini dinyatakan beberapa hal, yaitu;

  • Ayat ini dimulai dengan kalimat “Subhana”, yang artinya Maha Suci Tuhan. Ini dianggap perlu, jangan sampai ada yang berpikiran bahwa Nabi Muhammad Saw. Anak-Nya, hanya karena beliau dipanggil ke langit. Maka dari itu ayat tersebut menyatakan bahwa “amat suci tuhan dari mempunyai anak (Tuhan tidak mempunyai anak)”. Dan jangan sampai ada anggapan bahwa Nabi Muhammad Saw akan dicelakakan, karena beliau dibawa berjalan jauh-jauh. Maka dikatakan lebih dahulu ”amat suci Tuhan dari akan mencelakakan Hamba-Nya”.
  • Nabi Muhammad Saw. dipanggil.

Nabi Muhammad Saw. Melakukan Isra` Mi`raj bukan hanya kemauan beliau, tetapi dipanggil oleh Tuhan. Dalam ayat ini dikatakan ashraa` memperjalankan atau memerintahkan hamba-Nya (Nabi Muhammad) berjalan malam hari.

Dalam hadis dijelaskan bahwasanya perjalanan tersebut dibimbing oleh Malaikat Jibril, artinya Nabi Muhammad dipanggil, dijemput dan dibimbing.

Oleh karena itu sekalian perjalanan dalam isra`mi`raj tidak sulit dilakukan, ibaratkan da seorang yang dipanggil dan dijemput untuk menghadap raja, tidak seorangpun yang dapa menghalanginya. Kalau begitu maka isra`dan mi`raj ini, bukan masuk akal, tapi memang bemar-benar masuk akal, karena kekuasaan Tuhan itu melebihi dan meliputi segala-galanya, sampai menguasai yang di balik akal manusia.

  • Yang dipanggil hamba-Nya.

Yang dipanggil dan dijemput itu “abduhu”, yang artinya hamba-Nya. Ini menyatakan terus terang bahwa yang melakukan isra` mi`raj dalah Nabi Muhammad Saw. Bukan cuman ruhnya saja tapi juga dengan tubuhnya juga.

Perhatikanlah baik-baik, jika ada yang mengatakan: “Si Abdullah datang, dan sekarang berada di muka pintu”. Tentu saja tanpa ada keterangan “jasad” pun sudah jelas bahwa bukan hanya ruh Abdullah saja yang datang dan berada di pintu, atau Abdulah datang tanpa tubuh.

Abdullah artinya ialah ruh dan tubuh. Begitu pula dalam bahasa Indonesia dan begitu pula dalam bahasa Arab.

Maka dengan adanya keterangan ini, sangat disalahkan ketika ada yang berpendapat bahwa isra` mi`raj itu yang mengerjakan adalah ruh Nabi saja.

Perhatikan juga dalam ayat ini tidak mengatakan “asraa bijasadihi”(membawa bderjalan tubuh) atau “israa biruhihi”(membawa berjalan ruhnya). Tetapi ayat tersebut mengtakan “israa biabdihi” (menyeruh berjalan hamba-Nya).

  • Perjalanan dilakukan malam hari.

“Hamba” itu adalah kumpulan antara ruh dan tubuh

“Israa dan Mi`raj” dilakukan malam hari, karena perjalanan malam lebih sunyi, lebih aman dean lebih tenang, sebagaimana perjalanan pesawat terbang pada malam hari lebih tenang dari pada siang hari.

  • Untuk melihat kebesaran Tuhan.

Isra` dan Mi`raj dilakukan untuk melihat ayat-ayat (tanda-tanda) kebesaran Tuhan. Untuk melihat ruang angkasa dan isinya. Dalam istilah zaman sekarang adalah untuk meninjau. Di sini jelas bahwa perjalanan tersebut dillakukan dengan ruh dan tubuh diwaktu yang sadar, karena tidak ada artinya jika perjalanan tersebut hanya dilakukan dalam mimpi saja.

  • Andai kata isra` dan mi`raj itu hanya dilakukan dalam mimpi saja maka itu tidak ada artinya sama sekali sebagai mu`jizat, karena setiap orang bisa bermimpi dan orang tidak akan mengagungkan apa yang dimipikannya.

Kalau orang Islam di seluruh dunia merayakan isra` mi`raj malam 27 Rajab atau mengagungkan malam itu, hal tersebut adalah bukti bahwa yang diagungkan itu karena perjalanan itu benar dilakukan denga ruh dan tubuh Nabi dan dalam keadaan sadar.

  • Pendapat-pendapat ahli tafsir. Baik kami nukilkan pendapat-pendapat ahli tafsir yang mu`tabar yang berkaitan dengan ayat ini.

Berikan komentar