HUJAN VERSI 4.0

0
12
views
Hujan 4.0

“Anda memiliki permohonan yang mustahil. Datanglah ke desa di atas bukit. Desa yang tak mengenal kata mustahil”

Begitulah jargon desa di atas bukit yang tertancap di jalan dan kota-kota sebelah. Desa yang tidak mengenal kata mustahil itu memang benar-benar ada dan nyata. Ada bukit hijau menonjol, pekarangan bunga beragam jenis, cakrawala  terlukis sempurna, dan semua hewan yang damai berkeliaran. Semua ada di desa itu. Ajaib.

Desa itu tampak omong kosong, jika tiada Dewi kemakmuran singgah di sana. Dewi cantik nan jelita, rambutnya hitam pekat, dan kulitnya sejernih salju. Entah apa yang merasuki Dewi secantik Dewi kemakmuran yang turun dari langit, lalu singgah di sebuah desa termiskin di dunia, desa yang menangis. Apa yang membuatnya turun di desa kumuh ini—pikir warga.

Semua orang datang ke desa di atas bukit untuk menyaksikan desa yang ajaib dipenuh dengan kehangatan dan harapan. Tiada keindahan seindah senja hangat, malam beribu cahaya bintang, dan pagi sejuk dengan semburat mentari, selain keindahan di desa di atas bukit, desa yang pernah menangis.

Dewi kemakmuran tinggal di gubuk kayu tua bersama petani termiskin di dunia. Sempat warga menawarkan tempat yang lebih indah ketimbang gubuk kayu tua milik petani termiskin itu. Namun, sang Dewi menolak lembut tawaran warga—Jika sang Dewi memutuskan dengan demikian. Apa boleh buat—pikir warga desa di atas bukit.

Tiada yang lebih diharapkan dari petani termiskin di dunia. Dia seorang lelaki paruh baya dan jaka. Pekerjaannya hanya menanam dan menanam tanpa memanen. Dia sengaja membiarkan orang dan hewan mengambil hasil panennya. Jika lapar, ia hanya perlu memancing di laut, memakan hasil tangkapannya.

Dalam diri petani termiskin di dunia, sang Dewi melihat ada sebuah kemakmuran dari kemakmuran. Seakan-akan, dia itu sebuah kunci yang dapat membuka sebuah pintu. Pria termiskin di dunia adalah kunci kemakmuran. Dialah sosok kemakmuran dari kemakmuran.

Keistimewaan sang Dewi yang terkunci, akhirnya terbuka karena kunci yang ada dalam diri pria termiskin di dunia. Sang Dewi bisa mengabulkan segala permohonan manusia meskipun yang aneh-aneh.

Doa yang indah telah didengar manusia. Doa yang bukan sembarang doa yang diajarkan di sekolah keagamaan. Namun, sebuah nyanyian, atau musik iringan, atau hanya kata yang manusia tidak pernah mengenalnya selama peradaban manusia lahir. Doa yang hanya Dewi dapat melakukannya.

Desa yang tak mengenal kata mustahil itu telah damai berlalu. Semua hanya sebuah iringan memori yang dibawa hujan melalui tetesan deras yang berbunyi pasti. Hanya sebuah memori.

Desa yang pernah menangis kini kembali menangis. Bukan karena tangis penduduk desa. Namun, tangis sang Dewi yang bukan jatuh dari matanya, tetapi jatuh dari langit. Menetes dan terus menetes. Menjadikan hujan.

Hanya kepada hujan pengganti rindu Dewi kemakmuran.

Hujan adalah teman dalam pilunya.Tetapi, hujan adalah musibah bagi umat manusia. Hujan selama lima ribu tahun itu telah menenggelamkan desa bahkan peradaban. Dunia hanya berisi air dan air. Desa yang dulunya desa terkaya, kini menjadi desa mengapung satu-satunya yang tersisa. Desa pengembara tanpa tujuan.

Sang Dewi duduk termangu di atas pipa paling tinggi di desa mengapung. Menatap sungai atau laut atau kedua-duanya. Dia merasa tak ada bedanya sungai dan laut, karena dunia ini berupa air dan air.

Hujan masih seperti sedia kala dengan tetesan dan suara deras yang berirama pasti. Hujan memiliki beberapa musim. Seperti hujan kemarau, gerimis musim semi, malam hujan deras, dan badai hujan petir yang paling mengerikan. Semua hujan memiliki cita rasa sendiri. Tapi yang menyamakan dari segala hujan yang pernah diciptakan adalah kenangan yang terkandung dalam tetesannya. Tetesan hujan seperti pengingat disetiap bunyinya adalah memori. Selama lima ribu tahun, manusia telah menemukan rahasia di balik hujan. Hujan adalah alat penyimpan memori. Hujan kini bisa dinikmati berbagai kalangan yang dikemas sedemikian rupa sehingga hujan memiliki update terbarunya. Hujan yang dinikmati  sang Dewi adalah hujan versi 4.0

“Hujan, besarkan volume memori” tetesan hujan makin kencang menerpa tubuh sang Dewi. Menciptakan badai kecil dan petir. “Oh sayang. Selama lima ribu tahun lamanya, tanpa dirimu dunia tiada gunanya!”. Saat dia memukul tiang pipa. Petir menyambar air. Dentumannya mengagetkan nelayan yang kebetulan membersihkan perahunya di bawah.

Tangisan sang Dewi teralihkan bukan karena dentum petir menyambar air, tetapi suara yang memanggil dirinya, samar. Seperti suara kekasihnya namun agak berat dan lantang “Hei Dewi. Kecilkan volumenya. Kamu mau dunia ini jadi samudra petir?” suara nelayan itu menggema.

“Masa bodoh” Dewi kembali menangis.

“Jangan begitu!. Berdoalah untuk dirimu agar bahagia. kamu seorang Dewi bukan?”

“Benar!Memang bisa?” tanya dia bimbang.

Nelayan itu menepuk dadanya. Menyakinkan perkataannya.

Dewi sedang berdoa untuk dirinya sendiri. Dia yakin dengan ucapan nelayan itu. Dia yakin doanya terkabulkan layaknya dia mendoakan orang lain.

Saat hujan gerimis terasa tenang. Awan tetap mendung, tetapi terasa nyaman. Jendela kamar menyisakan tetes hujan. Sosok wanita datang menghampiri sang Dewi di kasurnya. Melingkarkan tangan wanita itu di lehennya. Terdengar tangisan dalam.

“Hujan kecilku, selamat datang kembali!”

Berita sebelumyaBisakah Air Musta’mal digunakan untuk Bersuci?
Berita berikutnyaMas Ji
📆 28 april 2000 | 🎗Mahasiswa Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan | 🏡 Bubulan Bojonegoro | 📌 Apapun yng ada adalah kebaikan dan itu ada pada diri manusia
BAGIKAN

Berikan komentar